Tuesday, November 27, 2018

PERILAKU KEORGANISASIAN


PERILAKU KEORGANISASIAN
Dr. Ida Kusumawijaya



TALENT MANAGEMENT
 Nama Kelompok :
1.      Amelia Delsiana Ate                    (20172413002)
2.      Astri Windari Ida Ayu Made     (20172413004)
3.      Ayu Gangga Prashanti               (20172413005)
4.      I Putu Harris Pramana Putra    (20172413012)
5.      Wayan Dite Wastane                  (20172413053)



PROGRAM STUDI AKUTANSI
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI TRIATMA MULYA
DALUNG
NOVEMBER 2018




  1. 1.      PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Saat ini organisasi mengalami banyak perubahan yang diakibatkan oleh perubahan sifat pekerja, bentuk pekerja, inovasi pekerja, perkembangan pengetahuan dan persaingan. Sehingga menjadi perhatian lebih besar pada pekerja dalam memberikan nilai tambah bagi strategi organisasi dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis dan meningkatkan keunggulan bersaing. Tantangan utamanya adalah perubahan yang terus menerus terjadi dan tuntutan melakukan adaptasi terhadap perkembangan dengan kebutuhan organisasi terhadap pekerja. Namun saat terjadi paradigm dalam hal karir dan keamanan kerja. Pada tahun 1950 hingga tahun 1960-an, perkembangan karir dapat dilakukan dengan bantuan orang lain.
Padahal industri perhotelan menilai investasi pada SDM sangat penting dalam memberikan kepada Manajer agar memiliki kemampuan lebih dalam memehami dan ikut serta merancang strategi organisasi. Pada sisi lain Manajer juga berperan sebagai agen perubahan perancangan dana yang mengelola kapasistas perubahan dan perubahan budaya organisasi (Ulrich, 1997 dalam Kusumawijaya 2011). Sebagai agen perubahan Manajer juga perlu menguasai empat agenda yaitu: (a) katalisator/spon sor, (b) fasilitator, (c) perancang, dan (d) Demonstator. Faktor yang mempengaruhi peran Manajer sebagai agen perubahan , yaitu: (a) menetukan perubahan, (b) mengelola kendala prubahan, (c) mengidentifikasi pendekatan implementasi perubahan, (d) meningkatkan dukungan untuk berubah (e) mengembangkan sasaran perubahan, (f) menciptakan budaya yang sesuai, (g) membangun kapasitas sebagai agen perubahan, (h) perencanaan motivasi, dan (i) perencanaan komunikasi. 
Di survei awal oleh Kusumawijaya (2011)  mengungkapkan bahwa peran agen prubahan Manajer pada hotel berbintang di Bali belum sepenuhnya disadari dan dilaksanakan serta secara keseluruhan peran agen perubahan Manajer berada pada kategori rendah sehingga ini menjadi kendala dan kendala yang perlu diperhatikan dalam menciptakan daya saing hotel untuk menawarkan kualitas pelayanan unggul seiring meningkatnya persaingan global. Padahal seharusnya Manajer memiliki kemampuan mengelola perubahan yang dapat meningkatkan nilai tambah bagi perusahaan dan memahami proses penting untuk perubahan dengan membuat komitmen dan menjamin perubahan sungguh ada sehingga mampu beradaptasi dan mengadopsi perubahan dalam menciptakan keunggulan bersaing. Oleh karena itu diperlukan manajemen talenta untuk dapat menarik sumber daya manusia untuk dapat mengembangkan SDM.
Maajemen talenta adalah pengelolaan sumber daya manusia dengan menarik dalam mengembangkan dan mempertahankan SDM secara terintegrasi yang dapat memastikan pencapaian kinerja organisasi. Namun saat ini partisipasi dari pihak manger dalam manajemen talenta masih kurang optimal. Hal ini dapat dilihat dari survei pada hotel berbintang di Bali belum sepenuhnya disadari dan dilaksanakan serta secara keseluruhan masih tergololong kategori rendah. Hal inilah yang menjadi kendala dan tantangan yang harus kendala dan tantangan yang harus hadapi oleh pihak manahemen hotel berbintang di Bali. Padahal permintaan dan kebutuhan akan SDM bertalenta menjadi perhatian penting bagi organisasi. Agar dapat mengembangkan dan meningkatkan kinerja pengelolaan sumber daya manusia maka  fokus utama nya pada program manajemen talenta. Hal ini dikarenakan manajemen talenta dalam industri perhotelan menjadi mindset organisasi yang menjamin the right people with the right jobs at the right time, base on strategic business objectibes sebagai driver of competitive advantage. Menurut Mine dan Peter (2005, dalam Kusumawijaya, 2011) menyebutkan bahwa banyak hotel menilai pengukuran kinerja Manajer adalah hal yang penting, untuk merefleksikan seluruh lingkungan kerja yang ada dalam hotel termasuk penilaian employes as well as guest.  Sehingga dibutuhkan manajemen talenta yang memiliki kemampuan untuk membuat keputusan berdasarkan informasi tentang modal manusia.

1.2  Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian adalah :
1.2.1        Untuk menganalisis keterkaitan  manajemen talenta  dengan organisasi
1.2.2        Untuk menganalisis keterkaitan antara manajemen talenta dan keputusan Manajemen



2.      KAJIAN LITERATUR

2.1  Manajemen Talenta
Menurut Pella (2011), manajemen talenta adalah kegiatan yang membutuhkan komitmen terus-menerus dalam jangka panjang. Manajemen talenta dimaksudkan memaksimalkan kinerja sumber daya manusia dan organisasi dalam pencapaian potensi terbaiknya menghadapi tantangan bisnis. Menurut Armstrong (2008:168) mengartikan manajemen talenta sebagai proses mengindentifikasi, mengembangkan, merekrut, mempertahankan, dan menyebarkan orang- orang bertalenta. Pendapat lainnya diutarakan oleh Pella dan Inayati (2011:81) “Manajemen talenta adalah suatu perusahaan mengisi posisi kunci pemimpin masa depan (future leaders) dan posisi yang mendukung kompetensi inti perusahaan (unique skill and high strategic value)”. Ada beberapa perspektif mengenai manajemne talenta. Menurut perspektif pertama, manajemen bakat dikaitkan dengan satu set fungsi HRM / praktek HRD yang khas, seperti perekrutan, pelatihan, dan pengembangan (Heinen dan O'Neill, 2004). Creelman (2004) mendefinisikan manajemen talenta sebagai proses menarik, merekrut, dan mempertahankan karyawan berbakat.  Konsep manajemen talenta dianggap sebagai sebuah konsep yang penting dalam menunjang keberhasilan organisasi (Collings dan Mellahi, 2009; Lewis dan Heckman, 2006; Tarique dan Schuler, 2010). Artinya, talenta secara umum diasumsikan sinonim dengan manusia (Lewis dan Heckman, 2006) atau aset, seperti pengetahuan individu, keterampilan, sikap, atau kompetensi.  Manajemen talenta memepunyai dua unsur. Pertama, asset individu yang meliputi kompetensi. Kedua, modal sosial dan kualifikasi formal terkait dengan talenta (McQuaid dan Lindsay, 2005). Aspek utama yang dipekerjakan adalah kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan. Salah satu aspek kemampuan adalah kemampuan formal dan keberhasilan aktual individu melakukan tugas pekerjaan. Aspek lain adalah pusat kerja, terutama di daerah dengan persaingan sengit untuk pekerjaan. Mandat resmi individu dan kemampuan untuk bernegosiasi, untuk memasarkan diri sendiri, dan untuk menonjolkan bentuk sesuai kompetensi untuk seorang perekrut. Seorang karyawan dasarnya menjual dirinya untuk majikan. Didalam situasi tertentu, majikan menjadi pelanggan, dan potensi karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan yang diperlukan adalah produk. Dengan dekimian karyawan perlu melakukan peningkatan kemampuan individu dan melibatkan proses pencocokan aset individu dengan tuntutan dari majikan dalam pekerjaan yang kompleks, relasional, dan konsep multidimensi (Moreau dan Leathwood, 2006). Sehingga dibutuhkan proses yang berkesinambungan meliputi: membuat rencana kebutuhan talenta, mebangun citra untuk menarik talenta terbaik dari pasar talenta, memastikan talenta baru masuk ke organisasi (Pella, 2011).
Strategi penggunaan manajemen talenta pada perusahaan seharusnya disesuaikan dengan visi, tujuan, dan strategi perusahaan agar SDM perusahaaan dapat secara dinamis menyesuaikan strategi bersaing menghadapi perubahan lingkungan. Oleh karena itu, dijaman sekarang ini diperlukan manajemen talenta untuk dapat meningkatkan potensi karyawan dengan mengembangkan kapasitas mereka. Bahkan maanjemen talenta dipandang sebagai tugas strategis para pemimpin di organisasi untuk dapat mencapai tujuan yang dimaksudkan (Soegoto, 2017). Ketika bidang manajemen talenta berkembang ke tahap yang lebih matang di masa mendatang tahun, munculnya konsensus yang lebih besar di sekitar definisi dan batasan intelektualnya akan menjadi ukuran kemajuan yang penting (Collings et al., 2011 dalam Schuler et al., 2011; Scullion et al., 2010; Tarique dan Schuler, 2010). Untuk organisasi di seluruh dunia, manajemen talenta dipandang sebagai  pekerja yang memiliki pengetahuan potensi tinggi dalam meningkatkan kepentingan strategis (Tymon et al., 2010; Vaiman, 2010).  Dapat dilihat dari sudut pandang beberapa orang mengenai penyelarasan manajemen talenta erat dengan strategi bisnis dan budaya perusahaan sebagai fitur kunci dari manajemen talenta (Farndale et al., 2010; Kim dan Scullion, 2011).
Ulasan terbaru telah menyimpulkan bahwa kurangnya definisi yang tepat tentang manajemen talenta dapat berkontribusi pada keterbatasan pemahaman di daerah (Mellahi dan Collings, 2010; Collings dan Scullion, 2009). Sementara manajemen talenta banyak di perbincangkan karena kurang konseptual dan intelektual serta beberapa masalah mengenai definisi dan batasan intelektual manajemen talenta (Lewis dan Heckman, 2006; Scullion and Collings, 2011), sehingga muncul beberapa argument terbaru yang telah berkontribusi secara teoritis untuk mempelajari talenta manajemen.  Namun demikian, tidak melupakan bahwa bagaimana manajemen talenta di defisinikan dan dapat dilakukan dalam kontek nasional.
Menurut Cullion and Collings (2011) mendefinisikan mengenai manajemen talenta secara global mencakup semua kegiatan organisasi untuk tujuan menarik, memilih, mengembangkan, dan mempertahankan karyawan terbaik dalam peran yang paling strategis (peran yang diperlukan untuk mencapai prioritas strategis organisasi) dalam skala global. Manajemen talenta global mempertimbangkan perbedaan dalam prioritas strategis global kedua organisasi sebagai serta perbedaan di seluruh konteks nasional untuk bagaimana talenta harus dikelola negara tempat mereka beroperasi. Bukti empiris tentang manajemen talenta tetap terbatas tetapi menunjukkan perbedaan yang lebar antara retorika formal kebijakan dan realitas apa yang terjadi dalam praktik. Sementara perusahaan cenderung mengenalipentingnya manajemen talenta, mereka sering gagal mengelolanya secara efektif (Scullion et al., 2007; Schuler et al., 2011; Collings et al., 2011). Krisis keuangan global telah menyebabkan pertanyaan tentang relevansi berkelanjutan pendekatan tradisional terhadap manajemen talenta, tetapi bukti menunjukkan bahwa itu tetap merupakan masalah yang cukup signifikan bagi para manajer senior di banyak organisasi besar. Untuk beberapa perusahaan, mengidentifikasi, menarik, dan mempertahankan karyawan yang bertalenta dan bernilai tinggi sebenarnya telah meningkat pentingnya dalam beberapa tahun terakhir (Beechler dan Woodward, 2009; Farndale dkk, 2010; McDonnell dkk, 2010; Scullionet al., 2011). Manajemen talenta cenderung menjadi tantangan bagi organisasi di semua jurusan ekonomi di seluruh dunia, dengan riset terbaru yang menunjukkan talenta itu tantangan manajemen bahkan mungkin lebih akut di pasar negara berkembang (Yeung et al.,MD 50,5926).
Namun penelitian di beberapa pasar negara berkembang seperti India dan Cina mengenai manajemen talenta, meski sebagai negara-negara berkembang tersebut masih baru tetapi berkontribusi dalam pentingnya strategis manajemen talenta di pasar (etc. Teagarden et al., 2008; Illes et al., 2010).
Pengambilan keputusan dalam manajemen talenta semakin perlu di akui khusunya dalam  konteks manajemen yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk pasar negara berkembang, perlu diingat konteknya sangat berbeda dengan konteks AS di mana banyak teori tentang manajemen talenta telah muncul (Brewster, 1995; Brewsteret al., 2004; Holt Larsen dan Mayrhofer, 2006; Dickmann et al., 2008). Keterkaitan antara manajemen talenta dan pengambilan keputusan manajemen bukanlah hal baru. John Boudreau mulai menggunakan istilah ilmu keputusan dalam konteks talenta manajemen dan SDM pada tahun 1990-an (Boudreau dan Ramstad, 2007), mendefinisikan tujuan ilmu pengetahuan talenta yaitu "untuk meningkatkan keberhasilan organisasi dengan meningkatkan keputusan yang bergantung atau berdampak pada talenta sumber daya”. Pada dasarnya, mereka berpendapat bahwa SDM harus memposisikan dirinya sebagai fungsi dan menggeser penekanan dari penyediaan layanan untuk mendukung keputusan kunci di dalamnya bisnis, khususnya dalam kaitannya dengan talenta. Dalam banyak cara yang sama seperti pemasaran dan keuangan telah berevolusi menjadi fungsi yang sangat banyak memberi informasi dan dukungan pengambilan keputusan oleh pemimpin organisasi di luar fungsi mereka, Boudreau dan Ramstad berpendapat bahwa HR menawarkan potensi yang jauh lebih besar jika berfokus pada penyediaan non-SDM pemimpin yang akhirnya membuat keputusan talenta dengan kerangka keputusan dan data dan analisis yang diperlukan untuk menginformasikan keputusan kunci seputar talenta. Sepintas lalu pemeriksaan organisasi menunjukkan bahwa keputusan seputar talenta sering dibuat tanpa kerangka kerja yang dipahami dengan baik atau pertimbangan dari data kunci yang relevan (Boudreau, 2010). Naluri dan preferensi yang diinformasikan dan bias para pemangku kepentingan utama sering terlalu bias dalam keputusan talenta (Mellahi dan Collings, 2010; Boudreau dan Jesuthasan, 2011). Bergerak di luar peran terbatas yang dimainkan oleh fungsi SDM secara historis keputusan talenta utama melibatkan bergerak di luar penyediaan data yang diminta oleh pemimpin organisasi menuju membawa sintesis ke data, menyajikannya dapat digunakan metrik dan analitik, dan menjelaskan nuansa di belakang mereka (Boudreau dan Jesuthasan, 2011). Ketika ini dianggap dalam konteks rasionalitas terbatas, di mana batas kognitif yang dialami individu dalam kemampuan mereka untuk memproses dan menafsirkan volume besar informasi yang kompleks sering menghasilkan keputusan yang buruk (Simon, 1979). Dalam mengatasi keterbatasan kemampuan mereka untuk memproses informasi yang kompleks dan tidak lengkap, manajer sering membuat keputusan berdasarkan pada bagian dari informasi yang tersedia, sering mengarah pada bias dalam pengambilan keputusan (Maret dan Shapira, 1987; Bukszar dan Connolly, 1988; Hammond et al., 1998).
Manajemen Talenta di dalam organisasi dapat digunakan sebagai instrumen untuk meningkatkan proses perekrutan dan menerapkan orang yang terampil dan mampu dalam proses organisasi. Dengan menempatkan keterampilan orang dengan posisi yang tepat dapat membidik tujuan dan strategi organisasi serta menciptakan kepuasan kerja melalui identifikasi dan mengoptimalkan talenta karyawan merupakan salah satu faktor yang efektif dalam mempengaruhi kepuasan kerja (HajiKarimi dan Soltani dalam Elahinejad dan Gholami, 2015:1). Dengan begitu dapat dikatakan upaya untuk mempertahankan talenta adalah dengan memperhatikan kepuasan kerjanya. Elemen manajamen talenta dibagi menjadi tiga kelompok besaryaitu menarik talenta, mengembangkan talenta, dan mengikat talenta (Suryatna, Ayat, 2016:42; Sule dan Wahyuningtyas, 2016:31-32).
1)      Menarik Talenta
Menarik Talenta adalah serangkaian proses untuk memperoleh orang-orang terbaik dan menempatkan karyawan sesuai dengan talenta yang dimiliki. Proses menarik talenta terdiri dari perencanaan talenta, rekrutmen, seleksi, dan orientasi
2)      Mengembangkan Talenta
Suatu proses untuk menggali potensi yang dimiliki karyawan sehingga berkembang menjadi kompetensi yang dibutuhkan organisasi di masa yang akan datang. Pengembangan karyawan dimulai dari penilaian kinerja, pemetaan kinerja, analisis kebutuhan pengembangan dan pembelajaran, implementasi pengembangan dan pembelajaran, dan review talenta.
3)       Mengikat Talenta
Mengikat Talenta adalah suatu proses untuk mengikat karyawan bertalenta secara emosional agar tetap menjadi bagian dari organisasi. Organisasi harus melakukan langkah-langkah untuk membangun komitmen karyawan, memenuhi kepuasan karyawan, dan mendorong munculnya kebanggaan karyawan terhadap organisasi. Aktivitas dari proses ini adalah perencanaan karir, perencanaan suksesi, mempertahankan talenta.  Untuk itu perlu diperhatikan, bahwa manajemen talenta diperhatikan pendidikan formal memanglah penting. Namun endidikan secara formal dapat diproksikan sebagai cermin pengetahuan namun secara substansi belum tentu mencerminkan keahlian dan keterampilan. Tingkat pendidikan individu terus meningkat, Talenta berkaitan erat dengan kemampuan yang sebenarnya individu dari melakukan pekerjaan (yaitu kompetensi individu). Oleh karena itu, untuk membahas lebih lanjut substansi bakat, penting untuk mempertimbangkan arti dari konsep pembelajaran, pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi (Collings dan Mellahi, 2009).
Talenta terkait dengan kompetensi kerja, seperti generik perilaku metakompetensi dan karakteristik personal yang lebih sulit diidentifikasi dibandingkan dengan mengidentifikasi kualifikasi teknis. Konsep ini telah memberikan kontribusi dalam praktek HRD dalam hal rekrutmen dan kinerja wawancara, magang program, posisi trainee, dan pembentukan komunikasi yang tepat dan profesional dengan manajer lini. Selain itu, peningkatan individualisasi dari tanggung jawab untukmerencanakan karir dan kemandirian dalam hal pengembangan dan investasi kerja tampaknya telah menyebabkan sistem HRD untuk fokus pada on-the-job training dan program pengembangan dan mempromosikan pembelajaran di tempat kerja dan pengembangan lulusan individu (perencanaan karir, pelatihan, mentoring, dan pembelajaran yang berhubungan dengan pekerjaan).

2.2  Keterkaitan Antara Manajemen Talenta dan Keputusan Manajer
Keterkaitan antara manajemen talenta dan pengambilan keputusan manajemen bukanlah hal baru. John Boudreau mulai menggunakan istilah ilmu keputusan dalam konteks talenta manajemen dan SDM pada tahun 1990-an (Boudreau dan Ramstad, 2007), mendefinisikan tujuan ilmu pengetahuan talenta yaitu "untuk meningkatkan keberhasilan organisasi dengan meningkatkan keputusan yang bergantung atau berdampak pada talenta sumber daya”. Keputusan sekitar ini termasuk pertanyaan tentang sejauh mana pengambil keputusan mencari informasi terkait untuk memandu pengambilan keputusan mereka dan memuaskan dalam hal dari tingkat informasi yang diperlukan sebelum manajer merasa mereka dapat membuat keputusan dan menghentikan proses pengumpulan informasi (Simon, 1979). Pengambilan keputusan dalam manajemen talenta semakin perlu di akui khusunya dalam  konteks manajemen yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk pasar negara berkembang, perlu diingat konteknya sangat berbeda dengan konteks AS di mana banyak teori tentang manajemen talenta telah muncul (Brewster, 1995; Brewsteret al., 2004; Holt Larsen dan Mayrhofer, 2006; Dickmann et al., 2008).
Dalam prakteknya tidak mungkin demikian manajer dihadapkan dengan keputusan manajemen talenta global yang akan memiliki waktu atau kemampuan untuk meneliti semua kandidat yang mungkin dari semua anak perusahaan yang sesuai dengan kriteria (Mellahi and Collings, 2010). Hal ini menjadi perdebatan dikarenakan banyak yang diperdebatkan. Hal ini dapat dilihat dari para pengambil keputusan cenderung memilih kandidat lebih dekat dengan mereka yang dianggap cukup baik berdasarkan pengalaman sebelumnya dan predisposisi. Hal ini sesuai dengan Makela dkk. (2010) yang menekankan dari cara pengambilan keputusan talenta yang sering dibuat atas dasar pilihan berbasis proses kognisi, di mana pembuat keputusan yang secara rasional mengevaluasi tersedia data kinerja dan antisipasi potensi masa depan. Dalam kontribusinya selama dekade terakhir atau lebih Boudreau telah berusaha untuk memindahkansifat dari keputusan talenta di luar kerangka kerja yang tidak tepat dan terbatas pada keputusan didukung oleh data dan proses ilmiah. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pembuat keputusan kemampuan untuk membuat keputusan berdasarkan informasi tentang modal manusia dan manajemen talenta. Kontribusi yang lebih baru menunjukkan bukti meningkatnya adopsi metode canggih yang menganalisis data karyawan dalam mengejar keunggulan kompetitif (Davenportet al., 2010b). Memang, Davenport dkk. (2010b) telah mengembangkan tipologi yang bermanfaat secara analitik yang mewakili berbagai kegunaan organisasi dapat menghasilkan talenta analitik. Ini berkisar dari fakta-fakta modal-manusia sederhana yang mencakup tingkat individu data kinerja dan data tingkat perusahaan seperti head-count, turnover dan metrik rekrutmen untuk penempatan talenta yang canggih secara real-time berdasarkan kebutuhan perubahan cepat. Potensi analitik dalam memahami tindakan mana yang memiliki dampak terbesar pada kinerja bisnis juga merupakan kategori penting dalam tipologi yang dapat diperdebatkan oleh sebagian orang adalah yang paling signifikan dalam membuat talenta keputusan mencerminkan perubahan menuju manajemen berbasis bukti (Rousseau dan Barends, 2011) dan merupakan langkah penting dalam memaksimalkan kontribusi dari Fungsi SDM untuk pengambilan keputusan dan kinerja organisasi.

2.3  Kerangka Pemikiran
Keterkaitan peran agen perubahan terhadap manajemen talenta. Hal pertama yang dilakukan dimulai dengan self-learning  dan self-knowledge sebagai wujud perubahan untuk mengimplementasikan konsep personal balance scorecard (PBSC) dan  organization balance scorecard (OBSC) sehingga dapat menghasilkan efektifitas yaitu peran agen perubahan berpengaruh terhadap manajemen talenta pada hotel berbintang di Bali. Kedua, keterkaitan peran mitra strategis dan agen perubahan terhadap manajemen talenta berpengaruh dikarenakan perubahan pengelolaan strategis organisasi yang dapat meningkatkan manajemen talenta dalam menghadapi perubahan lingkungan dan pencapaian kinerja unggul organisasi.  Ketiga, keterkaitan mitra strategis dan agen perubahan terhadap manajemen talenta serta dampaknya pada kinerja manajer mempengaruhi kegiatan pengelolaan talenta organisasi dan memberikan perhatian pada kinerja SDM dan strategi organisasi.


3.      HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Hasil

3.1.1  Analisis Deskriptif Manajemen Talenta
Dari hasil supervisi karyawan pada hotel berbintang di Bali berada pada kategori cukup. Hal ini dapat dilihat dari pengelolaan kendala perubahan, pendekatan identifikasi implementasi perubahan, peningkatan dukungan untuk berubah, pengembangan sasaran perubahan, menciptakan budaya yang sesuai, membangun kapasitas sebagai agen perubahan, perencanaan motivasi dan komunikasi yang secara keselurahan berada pada ketgori cukup. Artinya peran mitra strategis masih kurang dalam organisasi. Untuk partipasi manajer dalam manajemen talenta secara keseluruhan berada pada kategori cukup. Artimya, penerimaan kinerja organisasi lebih tinggi dalam partisipasi manajer dalam manajemen talenta dibandingkan dengan hal lainnya. Hal ini sesuai dengan partisipasi dalam mempertahankan karyawan, strategi pemilihan, strategi pelatihan, keinginan manajer tetap bekerja diorganisasi, dan penerimaan kinerja organisasi berada pada kategori cukup.

3.1.2  Analisis Deskripsif Kinerja Manajer
Partisipasi manajer dalam kinerja manajer di hotel berbintang di Bali berada pada kategori cukup. Hal ini dapat dilihat jumlah pekerjaan, kualitas pekerjaan, kerjasama, kemampuan mendelegasikan pekerjaan, inisiatif, dan kualitas pribadi berada pada kategori cukup. Sedangkan pemahaman prosedur kerja dan kreativitas dalam kinerja manajer berada pada kategori tinggi.   Pengaruh peran mitra strategis dan agen perubahan terhadap manajemen talenta serta dampaknya pada kinerja manajer menunjukkan siginifikan sehingga ada pengaruh dapat dilihat dari hasil pengujian statistika dengan uji t dengan kriteria uji α sebesar 0,05 dikarenakan t hitung lebih besar dibanding t table.


Berdasarkan hasil uji diatas, bahwa terdapat pengaruh peran mitra strategis terhadap kinerja manajer, terdapat pengaruh peran agen perubahan terhadap kinerja manajer dan terdapat pengaruh manajemen talenta terhadap kinerja manajer.

3.2  Pembahasan
Konsep Manajemen Talenta
Berdasarkan pada beberapa literatur menjelaskan bahwa manajemen talenta telah menjadi komponen utama dari strategi sumber daya manusia di perusahaan. Pendapat lainnya diutarakan oleh Pella dan Inayati (2011:81) “Manajemen talenta adalah suatu perusahaan mengisi posisi kunci pemimpin masa depan (future leaders) dan posisi yang mendukung kompetensi inti perusahaan (unique skill and high strategic value)”.  Manajemen talenta bukanlah konsep baru namun telah dikembangkan sejak tahun 1967 oleh Patton. Tetapi penelitian mengenai manjemen talenta sangat langka meskipun jumlahnya mengalami peningkatan. Hasil pengujian pengaruh peran mitra strategis dan agen perubahan terhadap manajemen talenta serta dampaknya pada kinerja manajer pada hotel berbintang di Bali menunjukkan adanya perubahan yang bermakna dari ketiga variabel (peran mitra strategis dan agen perubahan serta manajemen talenta). Dalam konteks rasionalitas terbatas, dimana batas kognitif yang dialami individu dalam kemampuan mereka untuk memproses dan menafsirkan volume besar informasi yang kompleks sering menghasilkan keputusan yang buruk (Simon, 1979). Dalam mengatasi keterbatasan kemampuan mereka untuk memproses informasi yang kompleks dan tidak lengkap, manajer sering membuat keputusan berdasarkan pada bagian dari informasi yang tersedia, sering mengarah pada bias dalam pengambilan keputusan (Maret dan Shapira, 1987; Bukszar dan Connolly, 1988; Hammond et al., 1998). Tingkat pendidikan individu terus meningkat, Talenta berkaitan erat dengan kemampuan yang sebenarnya individu dari melakukan pekerjaan (yaitu kompetensi individu). Oleh karena itu, untuk membahas lebih lanjut substansi bakat, penting untuk mempertimbangkan arti dari konsep pembelajaran, pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi (Collings dan Mellahi, 2009). Karen melalui manajemen talenta perusahaan berupaya untuk mengembangkan serta meningkatkan kinerja karyawan selaku sumber daya manusia untuk tujuan perusahaan yang lebih baik. Hal ini dapat dilihat dari masa perekrutan karyawan biasanya dilakukan seleksi dan penjaringan yang lebih bersermin pada latar belakang pendidikan serta pengalaman dari para pelamar. Dalam pengembangan manajemen talenta perusahaan harus melakukan beberapa hal yaitu merekrut dan menyeleksi karyawan ysng mrmpunyai talenta serta perusahaan harus melatih sehingga keryawan perusahaan yang direkrut akan memahami dengan benar akan perusahaan yang menjadi tempat karyawan itu bekerja. Rekrutmen, pelatihan, kompensasi dan kompetensi berpengaruh positif dan signifikan secara simultan terhadap kinerja karyawan. Sehingga kinerja karyawan akan semakin baik, karena semakin baik kompetensi yang dimliki karyawan akan semakin pula kinerja karyawan yang dihasilkan.  Hal ini dikarenakan manajemen talenta mencakup pemilihan dan pengembangan karyaawan yang dianggap berbakat di dalam perusahaan sehingga dapat menghasilkan sekelompok orang yang berbakat. Dikarenakan di perusahaan untuk memperoleh keberhasilan dan kesuksesan diperlukan manajemen talenta yang memiliki bakat yang kompetitif. Sehingga seorang manajer diperlukan skill atau kemampuan yang sangat penting untuk dapat bersaing di pasar. Dilihat dari hasil survey yang dilakukan oleh Kusumawijaya (2011) mengungkapkan perlu adanya peningkatan kinerja manajer guna menciptakan real competitive advantage bagi hotel. Hal ini menjadi tugas penting dari organisasi yang memiliki peranan penting dalam mengembangkan seluruh potensi yang miliki oleh sumber daya manusia untuk menciptakan kinerja yang baik dengan dilandasi berdasarkan indicator penilaaian kinerja karyawan. Dari indicator penilaian pekerjaan ini manajer akan melihat sejauh mana pemahaman karyawan yang direkrut memahami perusahaan yang akan menjadi tempat bekerjanya. Perhatikan tabel 1 Hasil Uji Reabilitas  dan tebel 3 Hasil pengujian Hipotesis Parsial yang dilakukan oleh Suwaidi dan Ardyanfitri (2018)



Pengujian hipotesis parsial dilakukan dengan membandingkan nilai signifikasi yang diperoleh melalui perhitungan SPSS pada Tabel 3 dengan menghitung nilai t, dengan kriteria t hitung > t tabel dengan Dk (degree of freedom) = 164-3-1= 160, maka t tabel sebesar 1,654. Besarnya pengaruh menarik talenta, mengembangkan talenta, dan mengikat talenta bisa dilihat dari kolom Beta Value. Interpretasi dari tabel 3 diatas adalah sebagai berikut:

1) Pada variabel menarik talenta menunjukkan nilai beta value sebesar 0,286 atau 28,6%yang berarti bahwa nilai variabel menarik talenta meningkat sebesar satu satuan maka kepuasan kerja tenaga kependidikan akan meningkat sebesar satu satuan dengan asumsi variabel mengembangkan talenta dan mengikat talenta dalam keadaan konstan atau tidak mengalami perubahan. Nilai koefisien tersebut juga mengindikasikan bahwa mengikat talenta memiliki pengaruh positif terhadap kepuasan kerja.  Hal ini ditunjukkan bahwa masa kerja tenaga kependidikan di UPN Veteran Jawa Timur mayoritas didominasi masa kerja >20 tahun yaitu sebesar 38% yang berarti bahwa mayoritas tenaga kependidikan berada pada batas masa pensiun sehingga UPN Veteran Jawa Timur perlu melakukan pengadaan karyawan melalui proses rekrutmen untuk menghadapi gap kebutuhan karyawan di masa mendatang. Proses rekrutmen yang dilakukan adalah mencari talenta yang memenuhi persyaratan yang disesuaikan dengan pengetahuan, kemampuan, dan keahlian yang dimiliki sehingga talenta memiliki peran spesifik dalam bidang pekerjaannya. Organisasi terbaik di masa depan adalah organisasi yang berfokus dan memprediksi keterampilan, sikap, dan perilaku yang diperlukan untuk individu-individu yang bertalenta (Davies dan dibutuhkan individu. Mengidentifikasi kebutuhan individu, memungkinkan para pemimpin memetakan pekerjaannya sesuai dengan bidang yang dikuasai, sejalan dengan Aksakal (2013) yang menyatakan bahwamanajemen talenta dilakukan untuk memastikan apakah perusahaan akan memperkerjakan karyawan yang tepat dengan penempatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sehingga individu akan memiliki kepuasan dalam pekerjaannya. Menerapkan strategi untuk mengembangkan dan memuaskan karyawan adalah prinsip-prinsip organisasi manajemen talenta yang benar (Hamidi et al, 2014:13) sehingga semakin baik dalam proses mengembangkan talenta maka semakin meningkat pula kepuasan kerjanya.
3) Pada variabel mengikat talenta menunjukkan nilai beta value sebesar 0,152 atau 15,2%yang berarti bahwa nilai variabel mengikat talenta meningkat sebesar satu satuan maka kepuasan kerja tenaga kependidikan akan meningkat sebesar satu satuan dengan asumsi variabel menarik talenta dan mengembangkan talenta dalam menghentikan keluarnya karyawan secara tiba-tiba sehingga perusahaan harus mampu memilih untuk meminimalkan turnover dan memaksimalkan mengikat karyawannya (Awan dan Farhan, 2016:5) sehingga semakin baik dalam proses mengikat talenta maka semakin meningkat pula kepuasan kerjanya.
Pengujian hipotesis simultan dilakukan dengan membandingkan nilai angka F Hitung dengan F tabel maka diperoleh angka F tabel sebesar 2,12 (Df= 3; 160, α= 0,1). Besarnya pengaruh menarik talenta, mengembangkan talenta, dan mengikat talenta terhadap kepuasan kerja secara simultan bisa dilihat dariR-Square. Hasil F Hitung sebesar 23,560 > F tabel sebesar 2,12 sehingga Menarik Talenta, Mengembangkan Talenta, dan Mengikat Talenta berpengaruh terhadap Kepuasan Kerja. Besarnya pengaruh Menarik Talenta, Mengembangkan Talenta, dan Mengikat Talenta terhadap Kepuasan Kerja adalah sebesar 30,8%sedangkansisanya sebesar 69,2% dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian ini.
Strategi penggunaan manajemen talenta pada perusahaan seharusnya disesuaikan dengan visi, tujuan, dan strategi perusahaan agar SDM perusahaaan dapat secara dinamis menyesuaikan strategi bersaing menghadapi perubahan lingkungan. Oleh karena itu, dijaman sekarang ini diperlukan manajemen talenta untuk dapat meningkatkan potensi karyawan dengan mengembangkan kapasitas mereka. Bahkan maanjemen talenta dipandang sebagai tugas strategis para pemimpin di organisasi untuk dapat mencapai tujuan yang dimaksudkan (Soegoto, 2017). Sehingga peran mitra strategis dan agen perubahan serta manajemen talenta berperan dalam upaya membentuk, mempertahankan, meningkatkan kinerja manjer hotel di Bali. Serta adanya pengaruh postif peran mitra strategis dan agen perubahan terhadap manajemen talenta serta dampaknya pada kinerja manager. Dikarenakan kurangnya pengenalan akan kinerja karyawan yang dilakukan oleh maanjer. Sehingga tuntutan akan peran penting dari kinerja karyawan. Berarti semakin baik pelaksanaan peran mitra strategis dan agen perubahan manajer yang akan diikuti pula baiknya pelaksanaan manajemen talenta yang akan berdampak pada kinerja manajer pada hotel berbintang di Bali. Hal ini dapat terjadi akibat adanya perubahan startegi hotel yang berdampak pada pengeloaan strategi SDM. Sehingga SDM dituntut untuk terus mengembangkan keterampilan, kompetisi, dan perencanaan yang bagus maka akan meningkatan keberhasilan dalam organisasi pada hotel berbintang di Bali. Manajemen Talenta yang efektif akan meningkatkan kepuasan kerja karyawan karena adanya perhatian khusus dari organisasi terhadap karyawan yang memiliki kinerja dan potensi tinggi untuk meningkatkan organisasi (Sule dan Wahyuningtyas, 2016:242) sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa tenaga kependidikan yang dulunya dapat dipromosikan untuk kenaikan jabatan dilihat dari ijazah atau tingkat pendidikannya, namun sekarang dapat dipertimbangkan melalui manajemen talenta yang tidak mengabaikan keahlian, pengalaman, ketrampilan, atau kompetensi tenaga kependidikan yang berstatus PNS dan Non-PNS.  Konsep manajemen talenta dianggap sebagai sebuah konsep yang penting dalam menunjang keberhasilan organisasi. Sehingga organisasi harus mengembangkan sistem dan praktik yang mempromosikan jenis talenta yang semakin menuntut. Perkembangan ini menunjukkan ada penawaran dan permintaan talenta dalam suatu organisasi. Departemen sumber daya manusia memiliki tugas penting sebagai mitra strategis dalam menemukan, mengelola, dan mengembangkan bakat dan dalam memastikan bahwa tujuan individu dan organisasi yang selaras. Karena di perusahaan diperlukan kepuasan kerja sehingga tercermin sikap disiplin, bermoral, dan prestasi kerja. Hal ini yang akan menyebabkan peningkatan kepuasan kerja karyawan pada perusahaam atau instansi. Karena itu, manajemen talenta dalam organisasi dapat digunakan sebagai instrument untuk meningkatkan proses perekrutan dan menerapkan orang-orang yang terampil dan mampu dalam proses organisasi. Dengan menempatkan orang sesuai dengan keterampilan yang dimiliki dan posisis yang sesuai dengan keterampilan itu maka akan membidik tujuan dan strategi organisasi derta mencipatakan kepuasan kerja melalui identifikasi dengan mengoptimalkan talenta karyawan yang merupakan salah satu faktor yang efektif dalam mempengaruhi kepuasan kerja.  Berdasarkan hasil enelitian yang dilakukan oleh Suwaidi dan Ardyanfitri (2018) tergolong efektif dalam mengupayakan pemenuhan kebutuhan keuangan dan non-keuangan karyawan yang dapat mengikat talenta karyawan. Dengan demikian karyawan yang seperti tiu akan berusaha mengupayakan apapun demi mencapi keberhasilan suatu perusahaan yang telah mengikat talenta-talenta yang dimiliki oleh karyawan. Sehingga proses menarik talenta pada manajemen talenta berpengaruh positif yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan dan menghentikan keluarnya karyawan yang tiba-tiba sehingga perusahaan harus mampu memilih untuk meminimalkan dan memaksimalkan pegawai untuk semakin baik dalam proses mengikat talenta sehingga terjadi kepuasan bekerja yang arahnya semakin baik. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suwaidi dan Ardyanfitri (2018) mengungkapkan bahwa besarnya adanya pengaruh menarik talenta, mengembangkan talenta, dan mengikat talenta terhadap kepuasan kerja secara simultan.
Sehubungan dengan talenta karyawan, tuntutan pekerjaan dan organisasi sangat tinggi. Dengan demikian, pelatihan dan pengembangan talenta termasuk karir harus dilakukan selaras. Selain itu, sebuah organisasi harus mempromosikan memungkinkan lingkungan belajar yang didukung oleh kebijakan dan cara-cara yang terorganisir (Collings dan Mellahi, 2009). Tujuannya adalah untuk meningkatkan pembuat keputusan kemampuan untuk membuat keputusan berdasarkan informasi tentang modal manusia dan manajemen talenta. Kontribusi yang lebih baru menunjukkan bukti meningkatnya adopsi metode canggih yang menganalisis data karyawan dalam mengejar keunggulan kompetitif (Davenportet al., 2010b). Organisasi harus mengembangkan sistem dan praktik yang mempromosikan jenis talenta yang semakin menuntut. Perkembangan ini menunjukkan ada penawaran dan permintaan talenta dalam suatu organisasi. Tiga dimensi bakat yang diusulkan dalam penelitian ini dapat memberikan beberapa arahan mengenai analisis seperti pelatihan dan pengembangan kebutuhan. Untuk menyelaraskan peran manajemen talenta dalam sebuah organisasi diperlukan kemampuan baik dibidang pengetahuan dan budaya dalam perusahaan. Menurut Armstrong (2008:168) mengartikan manajemen talenta sebagai proses mengindentifikasi, mengembangkan, merekrut, mempertahankan, dan menyebarkan orang- orang bertalenta. Pendapat lainnya diutarakan oleh Pella dan Inayati (2011:81) “Manajemen talenta adalah suatu perusahaan mengisi posisi kunci pemimpin masa depan (future leaders) dan posisi yang mendukung kompetensi inti perusahaan (unique skill and high strategic value)”.
  Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan manajemen talenta atau talent manajement adalah serangkaian inisiatif yang dilakukan perusahaan melalui proses mengindentifikasi, mengembangkan, dan mempertahankan karyawan yang bertalenta untuk menyelarasakam karyawan yanga tepat dengan pekerjaan dan waktu yang tepat berdasarkan tujuan strategis perusahaan dan prioritas kegiatan perusahaan dengan mengoptimalkan kinerja karyawan bertalenta sehingga tercipta keunggulan bisnis dan tercapainya visi perusahaan. Sehingga manajemen talenta perlu banyak pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Hal tersebut dapat dilihat dari, Pertama, perdebatan seputar pengambilan keputusan manajemen bakat. Kedua, beberapa faktor utama yang saat ini mempengaruhi pengambilan keputusan dalam manajemen bakat. Ketiga, mengidentifikasi beberapa bidang penelitian masa depan yang menginformasikan pengambilan keputusan di masa depan menejemen kemampuan. Hal berikut yang ingin dicapai oleh manajemen talenta dalam pengambilan keputusan yang sesuai dengan prinsip dari organisasi. Manajemen talenta diharapkan dapat direalisasikan secara nyata, efektif, dan efisien karena manajemen talenta tidak mengabikan keahlian, pengalaman, keterampilan, atau kompetensi yang dimiliki. Sehingga hal ini yang menjadi acuan utama dalam perekrutan karyawan sebagai pencapaian dalam keberhasilan suatu perusahaan.

4.      SIMPULAN
Dalam pelaksanaan peran mitra strategis manajer termasuk kategori cukup sehingga perlu adanya peningkatan kinerja manajer sebagai mitra strategis pada hotel di Bali dan terdapat pengaruh positif dan signifikan Antara peran mitra strategis dan peran agen perubahan terhadap manajemen talenta serta dampaknya pada kinerja manajer.  Pengelolaan peran SDM sebagai mitra strategis dan agen perubahan menunjukkan signifikan sehingga mempengaruhi kegiatan pengelolaan talenta organisasi.   peningkatan individualisasi dari tanggung jawab untukmerencanakan karir dan kemandirian dalam hal pengembangan dan investasi kerja tampaknya telah menyebabkan sistem HRD untuk fokus pada on-the-job training dan program pengembangan dan mempromosikan pembelajaran di tempat kerja dan pengembangan

lulusan individu (perencanaan karir, pelatihan, mentoring, dan pembelajaran yang berhubungan dengan pekerjaan).


DAFTAR PUSTAKA


Adnyana, I Md Dwi. 2011. Manajemen Pelatihan Berbasis Talenta. Jurnal Manajemen dan Akuntansi STIE Triatma Mulya. 21 (1) : 19-27.
Astuti, Wp., Minarsih, MM., Hasiholan, LB. Pengembangan Manajemen Talenta Terhadap Kualitas Pelayanan Dengan Kinerja Karyawan Sebagai Variabel Intervening Di BRT Semarang “PT. Matra Semar Semarang”.
Kusumawijaya, I. K. 2011. Peran Mitra Strategis dan Agen Perubahan Dalam Manajemen Talenta dan Kinerja Manajer. Jurnal Siasat Bisnis. 12 (1):125-143.
Octavia, HV., Susilo, H. 2011. Pengaruh Manajemen Talenta Terhadap Kinerja Karyawan (studi Pada Karyawan PT Pertamina Geothermal Energy Area Ulubelu). Jurnal Administrasi (JAB). 60  (2) : 186-191
Pella, D.A. 2011. Talent Management: Building Human Capital For Growht and Excellence. Edisi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Soegoto, E. S. 2017. Tren Kepemimpinan Kewirausahaan dan Manajemen Inovatif di Era Bisnis Modern. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Suwaidi, RA & Ardyanfitri, H. 2018. Manajemen talenta dalam meningkatkan kepuasan kerja tenaga kependidikan di UPN Veteran Jawa Timur. Jurnal Economic Resources. 1 (1) : 46-59






1.  

1.  
      

1.    .